ISWAN BRANDES. 2025. Analisis Beban Kerja Keperawatan Di Bagian Rawat Inap Umum Rumah Sakit Bhayangkara Polda Gorontalo. Program Studi Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Gorontalo. Pembimbing I: Prof. Dr. Sunarto Kadir, M.Kes. Dr. Irwan, S.KM.,M.Kes. Perawat merupakan komponen utama dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit, terutama di bagian rawat inap umum, dengan intensitas interaksi yang tinggi bersama pasien dan keluarga. Namun, beban kerja yang tinggi, kurangnya perawat dengan peran khusus, serta stres dan kelelahan kerap menjadi tantangan yang memengaruhi kualitas pelayanan kesehatan. Penelitian ini menjawab beberapa pertanyaan, yaitu: bagaimana analisis rasio pasien per perawat dan jumlah pasien per shift; bagaimana analisis rasio perawat dengan peran khusus; bagaimana tingkat stres dan kelelahan perawat; bagaimana penggunaan teknologi dan alat bantu; serta bagaimana tingkat keluhan atau komplain dari pasien di bagian rawat inap umum Rumah Sakit Bhayangkara Polda Gorontalo. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis berbagai aspek beban kerja keperawatan, meliputi rasio pasien per perawat, jumlah pasien per shift, rasio perawat dengan peran khusus, tingkat stres dan kelelahan yang dialami, penggunaan teknologi serta alat bantu dalam menunjang tugas perawat, hingga tingkat keluhan atau komplain dari pasien di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Gorontalo. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk menggali secara mendalam pengalaman dan persepsi 11 informan yang terdiri dari pegawai dan pasien rumah sakit. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur menggunakan kuesioner, yang memungkinkan analisis mendalam terhadap beban kerja keperawatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio pasien per perawat di unit rawat inap melebihi standar WHO, menyebabkan beban kerja tinggi dan kelelahan. Rasio perawat dengan peran khusus juga rendah, sehingga tugas-tugas kompleks kurang optimal. Tingkat stres dan kelelahan perawat ditemukan tinggi, dipicu oleh beban kerja berlebih, jadwal shift yang tidak teratur, serta kurangnya dukungan psikologis. Selain itu, penggunaan teknologi belum maksimal karena keterbatasan pelatihan dan infrastruktur, sementara keluhan pasien umumnya terkait dengan keterlambatan pelayanan dan kurangnya koordinasi antar-staf. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa rasio perawat-pasien yang melebihi standar WHO berpotensi meningkatkan stres dan kelelahan perawat, yang berdampak pada kualitas pelayanan kesehatan. Selain itu, penggunaan teknologi dan koordinasi antar-staf masih perlu ditingkatkan. Oleh karena itu, disarankan untuk menyesuaikan rasio perawat-pasien sesuai standar WHO, meningkatkan pelatihan perawat dengan peran khusus, menyediakan dukungan kesehatan mental, mengelola jadwal shift secara efisien, serta mengoptimalkan teknologi dan koordinasi antar-staf untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan kesejahteraan perawat. Kata Kunci : Rasio, perawat, pasien, peran khusus, kesehatan mental, teknologi, komunikasi staf, pelayanan kesehatan